kelas 2 SMA aku mulai mengikuti pelajaran katekumen yang diadakan sekolah untuk masuk ke dalam agama Katolik. kelas kecil yang berisi sepuluh orang ini dipimpin oleh seorang suster yang telah ditentukan oleh gereja wilayah. setiap minggu pagi selama satu setengah jam selama setahun, bukan waktu yang panjang dan juga bukan waktu yang pendek.
hari ini mendung, sempat hujan dan sempat panas. sama seperti minggu itu.
suster katekumenku menjelaskan tentang 10 perintah Allah, dan salah satunya adalah jangan membunuh.
dengan suaranya yang tenang dan rendah, suster menjelaskan, “membunuh tidak hanya secara fisik, tidak hanya manusia atau hewan, tapi juga jiwa. perasaan”
“bukannya membunuh hewan dan manusia wajar, tapi membunuh sesuatu yang tidak kelihatan, itu yang lebih diwaspadai. kita tidak tahu kapan kita ‘membunuh’ orang lain, kita tidak bisa meminta maaf dan memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, kita tidak bisa membangun kembali jiwa, perasaan, dan kepercayaan diri orang yang telah kita ‘bunuh’.
mungkin jika kita membunuh manusia, manusia tersebut akan merasakan sakit sampai dia mati. jika kita membunuh perasaan dan harga dirinya, rasa sakit itu akan terus terbawa setiap hari sampai dia tua dan mati. penderitaan yang dibawanya begitu besar dan menumpuk banyak tapi kita tetap tidak tahu kita telah membunuhnya perlahan.”
sering kali kita dengar, bahwa lidah tak bertulang, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. dan seringkali kita menjadi pembunuh, atau bahkan menikmati “membunuh” harga diri, perasaan, dan jiwa seseorang. seringkali, saia, kamu, anda, dia, mereka, dan kita semua membunuh orang lain.
menjatuhkan harga diri, membeberkan hal yang memalukan, mencela, memutar balikkan fakta, menghakimi, memfitnah, mencemooh, menyindir.
kamu dan aku sama-sama pembunuh.

Recent Comments