tahun 2011 akan berakhir beberapa hari lagi, tepatnya 19 hari.
sungguh tahun 2001 adalah tahun yang berwarna, setidaknya bagi saia.
banyak hal yang terjadi, jatuh cinta, putus cinta, sambung hidup, putus asa, berjuang mati-matian, part time, COP, .
magang tiga bulan (kepahitan saia bisa ditelusuri di beberapa post di blog ini), seminar ato yang juga dikenal dengan proposal skripsi yang pengerjaannya luar biasa cepat (cuma seminggu), dan skripsi saia yang…berujung dilanjutkan di semester depan. hahaha
kalo perjuangan diceritakan satu-satu rasanya ga cukup, makanya post ini dinamain “review”. bagus juga buat diri sendiri untuk melihat ke belakang sejenak dan belajar dan sedikit buruk karena hidup gue digembar-gemborin, tapi gapapa, gue bukan public figure yang pake jambul setnggi monas dan ga pake bulu mata setebel bulu kelek tarzan.
yang jelas banyak yang dipelajari dari hidupku setahun ini, sungguh, 2011 membawa berkat untukku. hidupku ga pernah seberwarna ini. begitu banyak masalah, cobaan dan tantangan sebelum nantinya setelah lulus masuk ke dalam masyarakat.
tentang pasrah :
tentu sebagai manusia normal banyak target-target baik jangka pendek maupun panjang yang sudah ditetapkan. salah satunya adalah lulus semester ini. biaya, dukungan orang tua, rasa capek ngekos selama 4,5 tahun, rasa malu, dan kebersamaan bersama teman-teman dipertaruhkan.
bukan diri sendiri yang menanggung, tapi juga orang tua, berusaha tiap hari, subuh hingga malam. sungguh semuanya terasa sia-sia disaat teman-teman sedang sibuk memburu agar tepat waktu dan saia cuma bisa menyemangati sambil memaksa senyum. saia tulus kok temen-temen saia lulus, sangat tulus dan mendukung, saia tahu bagaimana susahnya mereka, janjian ketemu dosen pembimbing yang cuma 10 menit tapi ngantri 5jam di kampus, diserobot sama mahasiswa lain yang ga tau diri, cari informan/responden yang cerewet, dan melekan bareng.
yang berat adalah mengasihani diri sendiri agar tetap tegar dan kuat. sungguh perih bahkan dosen pembimbing juga menguatkan. malu rasanya, saia tidak ingin dikasihani, saia hanya mau lulus.
saat itu saia berpikir, saia harus lulus, tidak ada pilihan atau jalan lain, tidak perduli revisi seabreg, skripsi tidak sempurna, nilai pas-pasan. saia cuma pingin lulus semester ini. lulus. maju skripsi.
tapi semuanya ga berjalan sebagaimana mestinya. dan saia harus menguatkan diri saia sendiri yang mentah-mentah menolak kenyataan bahwa saia lulus dari kuliah 10 semester.
tiba-tiba saia teringat masa kecil saia. saia TK (taman kanak-kanak) selama 4 tahun. keinginan saia sekolah lebih awal terwujud. entah karena apa saia bisa menyelesaikan dua tahun masa studi untuk TK tepat waktu dan saia begitu menggebu-gebu untuk masuk ke SD. kepala sekolah terang-terangan menolak. mama saia bersikeras bahwa saia lahir di awal bulan, jadi sebenarnya saia kurang umur satu tahun untuk masuk ke kelas 1 SD. dan perbincangan selama 40 menit itu berlangsung percuma. dan saia memaksa mama saia untuk melanjutkan negoisasi dengan kepala sekolah bahwa saia yakin seyakin yakinnya saia mampu mengikuti pelajaran SD karena saia lulus dengan nilai memuaskan. nyatanya tak bergeming, dan saia harus menunggu dua tahun dengan masuk ke TK, lagi…
kemudian saia berpikir, andai waktu itu saia masuk SD, mungkin prestasi saia tidak sebagus yang saia miliki sekarang ini, saia tidak akan ketemu teman-teman saia, saia tidak akan ketemu dengan dia yang saia cintai. kehidupan akan berubah, dan saia senang dengan kehidupan saia yang sekarang, cinta teman-teman dan dia. kalo saja saia masuk SD dua tahun lebih cepat.. dan saia menyadari lagi, bahwa semuanya baik pada waktunya, hanya saja saia baru menyadarinya sekarang.. 16 tahun dari waktu itu!
sungguh kita tidak akan paham dengan rencana kehidupan ini, cepat atau lambat, kita akan dan harus bersyukur, lebih cepat lebih baik, penyesalan dan kepahitan yang tersimpan toh nyatanya tidak akan mengubah apapun. entah 16 tahun ini tergolong cepat atau lambat… LOL
tentang 20/80 :
ada sebuah prinsip dalam pernikahan, yang saia rasa dapat diterapkan di bidang lain selain pernikahan. dalam film “why did i get married?” diceritakan tentang pentingnya prinsip 20/80. disaat kita mempunyai 80%, kita begitu terlena dengan segala kebaikan dari 80% tersebut dan saat kita melihat 20% sisanya yang tidak pernah kita lihat dan seketika kita merasa 20% itu begitu indah dan kita tidak memilikinya, sejenak melupakan 80% yang begitu ideal yang telah kita miliki.
entah tiga bulan yang saia lalui termasuk cepat atau lambat. setidaknya saia tersadar dan tidak sampai terseret ke 20% bak fatamorgana. selanjutnya 20% manapun tidak akan saia ijinkan untuk lewat di depan mata. mungkin ada baiknya saia menciptakan 20% saia sendiri yang tidak merugikan saia, seperti… iPad dan kecepatan internet yang ga bodoh, yang smart dan harus benar-benar smart.
tentang diam yang lebih kaya daripada kata :
disaat kata-kata tidak cukup untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dirasakan dan dipikirkan, disaat kata-kata malah merancu sebuah kebenaran, disaat itu hanya ketulusan dari sebuah aksi yang dapat membuktikan kebenaran. dan saat-saat seperti ini yang sedang tekun saia kerjakan, ada kalanya saia muak dan ingin cerewet untuk memberikan penjelasan dan kebenaran seperti biasanya, tapi ada ketakutan bahwa semuanya sia-sia dan malah memperburuk keadaan. dan disaat seperti ini, saia belajar untuk diam dan tulus melakukan sesuatu tanpa meminta balasan yang berarti. mencoba bahagia hanya dengan memberi.
tentang kedewasaan :
hingga detik ini aku sungguh tidak paham dengan konsep “kedewasaan” yang digembar-gemborkan banyak orang. yang katanya HARUS dimiliki seiring bertambahnya usia.
memiliki pekerjaan? tampil rapi? menghidupi seseorang? sabar? tenang? tidak ceplas ceplos?
sungguh tidak pahamnya dan bersedia berdiskusi dengan seseorang yang bisa menjelaskan dengan “dewasa”. tidak paham kenapa harus dimiliki.
sampai detik ini, saia, sebagai manusia, sedari kecil bertekad tidak akan dewasa. boleh lah anda tertawa dan tertawalah sampai puas.
pernah dengar bahwa pikiran manusia itu kuat dan besar? saia buktinya.
entah tekad saia yang begitu kuat atau hal itu memang besar di alam bawah sadar saia. saia tidak tumbuh kecil seperti ini begitu saja. pertumbuhan saia sangat amat terlambat karena saia menolak untuk tumbuh dewasa.
mungkin juga ini semacam suatu penyakit yang kebetulan membuat saia yang menolak mentah-mentah untuk tumbuh dewasa tetap seperti anak kecil.
dengan pertumbuhan estrogen yang baru saia alami pertama kali kelas 2 SMA, yang kemudian mandeg dan lanjut lagi kelas 2 SMA dan mandeg lagi dan keluar lagi waktu semester enam, saia sadar bahwa saia terlambat bertumbuh.
secara biologis saia masih memiliki gigi susu yang seharusnya sudah diganti dengan gigi dewasa saat manusia lainnya mengalami hal tersebut pada umur delapan tahun. disini saia 14 tahun kemudian masih menggunakan gigi susu yang seharusnya sudah pensiun itu.
saat 21 tahun saia sempat berpikir selama sebulan, mungking sudah saatnya saia melunak dan saia mulai belajar sedikit “menerima” agar saia bisa sedikit dewasa. saia ingat betul itu adalah akhir bulan di tahun 2009 saia membicarakan hal tersebut bersama dia, dan awal tahun 2010 tumbuh gigi dewasa saia walaupun cuma secuil. dan tak lama setelah itu saia kembali berpikir bahwa “menjadi dewasa tidak menjanjikan”, “orang dewasa tidak bagus-bagus amat” dan sebagainya dan pertumbuhan itu berhenti. kali ini saia rasa kebetulan, dua tahun kemudian, sekarang ini, tidak ada pertumbuhan yang berarti dari saia.
secara simpel, saia berpikir dan menentang “kedewasaan” seperti ini. hidup selama 22 tahun 11 bulan saia melihat dan menyaksikan dengan seksama bagaimana orang-orang yang mengaku “dewasa” dan memaksa menganjurkan saia agar tumbuh dewasa tadi bersikap kekanak-kanakan. saia tidak melihat kesinambungan dari perkataan, anjuran dan sikapnya dengan konsep “kedewasaan” yang dia sendiri sampaikan. mungkin dia berbohong. mungkin kesalahannya adalah kekhilafan. mungking dia memang belum dewasa, seperti pemahamannya.
saia tidak peduli.
bagi saia dia tidak dewasa. dan dia tidak bisa menepati janji dan omongannya, setidaknya itu yang harus dilakukan semua orang, tua atau muda.
di mata saia, orang-orang “dewasa” tersebut melakukan hal-hal yang tidak pantas demi dirinya sendiri, suka tidak suka. demi harga diri, demi sebuah status sosial, demi “kebahagiaan bersama”, demi dan demi, yang dilakukan berbeda dengan apa yang dikatakan.
orang-orang “dewasa” tersebut sungguh pintar menemukan kesalahan orang lain dan mengajari apa yang baik dan yang tidak, mengajurkan agar orang tersebut menuruti katanya. dan orang “dewasa” tadi tidak bisa menerima kritik, katanya apa yang dilakukannya benar, karena begitu yang masyarakat lakukan, karena ia mau tidak mau demi ini dan demi itu walaupun berbeda dari apa yang dikatakan.
orang “dewasa” yang bersenang-senang dengan cara yang konyol dan tidak berguna, bahkan melanggar dan hanya untuk “orang yang sudah dewasa”
dewasa yang tidak bisa percaya dengan siapapun dan apapun, yang hidup dalam kecurigaan dan untung rugi.
saia sudah muak dengan konsep “dewasa” yang ditawarkan sejauh ini. saia sudah muak dengan orang yang mengaku “dewasa” dan bertingkah kekanakan. bahkan anak-anak sendiri sudah jauh lebih baik, lebih bijak dalam mengambil keputusan dan menyadari kesalahan daripada sekelompok “manusia” yang mengaku “dewasa” tadi.
saia tidak menolak untuk tumbuh dewasa, jika ada seorang nanti yang menunjukkan saia kebenaran dari kedewasaan itu sendiri. jadi saia akan memilih untuk tetap menjadi anak-anak, yang ribut, yang riang, yang polos, yang ceplas ceplos, yang tetap mengatakan dan melakukan kebenaran walau menyakiti orang lain, yang tidak peduli akan status sosial, batasan umur agama dan gender, dan bermain menikmati hidup. setidaknya tidak akan ada anak-anak lain yang sakit hati dan menolak kedewasaan dan orang dewasa seperti saia dengan melihat saia bisa hidup, makan, bermain, belajar, dan bahagia seperti manusia lain walaupun saia berbeda dan menentang arus. walaupun saia tetap seorang anak-anak dalam usia yang seharusnya sudah “dewasa”.
sesungguhnya, anak-anak adalah beda dengan kekanak-kanakan
dan disinilah akhirnya. saia siap menyambut warna-warni, gelap dan terang tahun 2012.


selamat menjelang tahun baru ismi!
Saya setuju yang namanya childish (bertingkah seperti anak2) dan kiddish (sisi kekanak2an) itu memang beda. Dan saya juga setuju, untuk terus mempertahankan sisi kiddish (yang tulus, playful, dan kritis) dalam diri saya, di tengah terpaan segala definisi masyarakat tentang bagaimana menjadi ‘dewasa’ yang baik.
Sepertinya keren sekali pengalaman2 pribadi Ismi di 2011 kemarin.
Selamat menjadi dewasa dalam versi orisinalmu ya Ismi!
nampaknya kekerenan miss valencia jauh lebih keren dan nampaknya saia agak ngiri dan berusaha menyamakan diri biar sama keren dengan mencari program studi lanjutan di luar.
belajar lagi sambil merantau nampaknya bagus jugak
salam sukses *macak om Teguh* LOL
pas aku baca blog mu, aku juga merasa sehati, mi.
aku jg menolak yang namanya menjadi dewasa, ingin yang santai, polos dan apa adanya. sampai akhirnya aku masuk ke kuliah dan menemukan diriku harus berubah. sejujurnya berubah yang aku sendiri ngga tau jadi apa. yang aku tahu ngmg ini salah ngmg itu salah. akhirnya aku cm bisa pasrah mengikuti perubahan yang dikatakan “LEBIH DEWASA” tersebut. dan sama denganmu, yang menyuruh dewasa jauh lebih tidak dewasa dan egois. sangat tidak enak menjadi orang yang bukan diri kita dan serasa hanya menyenangkan orang lain, namun perubahan itu seakan memaksa.
kalau dilihat skrg, ketika aku melihat ke belakang masa lalu, aku jd mengingat masa2 menyakitkan tersebut. aku muak. tapi klo disuruh melihat ke depan. aku tettap bersyukur bisa melalui semuanya dengan baik. mungkin kita tidak tahu apakah rencanaNya untuk kita, tapi percaya semua ada waktuNya. Bukan bersikap religius, cm klo aku bayangin seandainya aku masih tukang ceplas ceplos seperti dl, aku akan lebih hancur lagi ketika di dunia kerja.
yah mungkin bisa liat positiv aja deh karena sprti 20/80 mu. kita takkan pernah puas klo melihat 20% fatarmogana idealisme keinginan hidup kita
tetep semangat dan jadilah dirimu apa adanya mi