dari orok sampai ketiadaan orang tua (bahkan beberapa sampai orang tua tiada) tetap menjadi seorang anak (yang egois).
saia tidak akan mengutik-utik urusan “kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah” walau sejumput kecil ibu membunuh dan membuang anaknya sendiri.
mari kita coba sama-sama runtut.
orok.
jabang kecil yang dimulai dari sebesar ibu jari ini hingga 3-4 kilogram minta diperhatikan tiap harinya oleh si ibu (maupun bapak kalo lagi ngidam). ga mau makan daging, amis. mau yang kecut, mau manis. kata siapa? kata jabang bayi. kalo ga dituruti ntar ngiler loh.
nah loh. dari kecil udah belajar ngancem, jangankan ngomong, melek aja belum tapi udah ngancem. apa jadinya kalo gede.
bayi.
kerjaannya apa kok egois?
NANGIS
pernah liat bayi lapar? pernah tau bayi ga nyaman trus kebangun? pernah tau bayi cari perhatian?
taunya dari mana? nangis kan?
betul bayi belum bisa ngomong, tapi kalo misalnya susunya diganti dengan yang lain, dan si bayi ga doyan, dia pasti nangis. walau udah dicampur dengan susu biasanya si bayi akan tau rasanya beda. beberapa “nrimo” beberapa lagi nangis. ga peduli si ibu berniat baik dan mengganti dengan susu yang lebih mahal, ato orang tua lagi kere dan ganti yang lebih murah.
pokoknya aku mau susu yang biasanya!
kata si bayi. egois lagi.
anak-anak.
beranjak lebih besar, si orok sebesar dua centimeter tadi udah bisa milih, nangis, bahkan beberapa bicara bahasa internasional. tentu pilihan semakin luas.
mulai dari game terbaru, hape, sampe makanan. si orok becek berwarna merah tadi sudah pandai merayu dan beberapa berdusta agar keinginannya bisa tercapai.
mulai dari berjanji akan memakan sayuran, belajar lebih giat, tidak minta barang lain dan lain-lain.
saia si dengan pikiran khas pedagang namun dengan kecenderungan lebih ke arah edukasi, saia versi anak-anak memohon setengah memaksa kepada orang tua saia, mama saia khususnya karena papa saia tidak terlalu peduli pada pendidikan, untuk masuk ke sekolah favorit yang harganya cukup membuat menelan lidah kala itu.
maklum, tanggungan mama saia banyak, tidak cuma anak dengan tetek bengeknya (baju, sekolah, buku, les, games, jajan, dll) tapi juga orang tua dan ponakan dan dirinya sendiri. dengan diplomatis saia menghitungkan kalkulasi biaya yang harus dikeluarkan orang tua saya jika saya sekolah di sekolah “warisan” sama seperti kedua kakak saya dan sekolah favorit pilihan saya. saya yang masih sembilan-sepuluh tahun membandingkan materi yang saya dapat dan status sosial yang bisa saia raih di masa depan yang berguna apabila saia bisa sekolah di sekolah favorit pilihan.
egois. saat itu saia tahu saia egois. tapi saia pikir alasan di belakang itu, yang saia kemukakan tadi itu jujur dan sudah saia perhitungkan. entah si mama terhasut dengan aksi diplomatis saia versi umur 10 tahun, entah karena kasihan entah karena asal menuruti keinginan muluk anak terakhirnya ini, mama mengijinkan saia sekolah di sekolah favorit. intinya tetep egois.
remaja.
beranjak dewasa dan memasuki frase akil balik.
setengah dewasa setengah anak-anak.
minta diperlakukan seperti orang dewasa tapi masih bertingkah seperti anak-anak.
keegoisan semakin melunjak.
pakaian paling trendi. gadget paling yahud. uang jajan spektakuler.kebebasan absolut. fasilitas komplit. semua ingin yang terbaik. demi sebuah image.. demi sebuah gambaran diri sendiri kita mengorbankan orang tua yang padahal mencintai kita apa adanya.
kita ngotot beli hape terbaru, sedangkan orang tua belum memiliki (zaman saia SMP) atau sekarang memiliki tapi masih sebatas bisa telpon dan sms.
uang jajan untuk nongkrong dan kongkow atau jjs atau game online yang diminta dengan setengah ngotot, setengah ngancem, atau setengah mata berbinar. padahal orang tua sudah lupa sama yang namanya jajan, icip-icip makanan, yang ada cuma menghabiskan makanan sisa kita karena kita ga doyan.
saia masih ingat saat itu, saia masih SMP, saat kedua anak perempuan mama saia dibelikan baju baru tiap tahunnya untuk suatu event, sedangkan saia melihat mama saia tidak pernah beli baju baru seingat saia. jadi kira-kira 13 tahun mama saia sudah tidak punya baju baru. saat ditanya, jawab mama cuma “buat apa, mama sudah tua..”
20an
usia dimana pikiran sudah sedikiiiiit mulai lebih dewasa namun tidak kalah egoisnya.
disaat pilihan menjadi semakin gila-gilaan.
mulai pilihan normal sampai abnormal.
katakanlah normal seperti jurusan kuliah, pacar, kos tidak kos, mobil atau motor dan uang saku.
abnormal seperti gay atau homo atau lesbian, rokok, drugs, hamil, narknoba, dan kriminalitas.
disaat seperti ini si anak yang tadi merengek minta punya hape, sudah merasa “besar” dan berhak mengambil keputusan sendiri tanpa campur orang tua walaupun kalo mereka terpuruk mereka akan kembali ke orang tua.
biasanya, si orok yang beberapa udah mulai penuaan dini ini ambil keputusan-keputusan tanpa sepengetahuan orang tua atau memaksa dan membantah yang pada akhirnya tetep keukeuh pada pilihannya sendiri. semakin egois.
saat sudah akan meninggalkan status sebagai anak.
dengan kata lain, memulai hidup baru, keluarga baru.
pada fase ini, kebanyakan orang tua akan berusaha memberi anak mereka yang terbaik, karena mereka tau, kalo anak mereka yang selalu terlihat sebagai “baby tercinta” ini sudah waktunya lepas dari pelukan mereka.
pesta meriah, hall terluas, gaun dan jas terbagus, undangan limited yang sekena hati ratu dan raja semalam tadi. soal dana urusan orang tua, soal undangan urusan kita walaupun kita ga mengundang beberapa pihak yang tidak kita sukai dan mencoreng nama baik orang tua…
out of context, dalam kasus saya adalah kakak saya, yang keduanya sudah cukup umur dan keduanya berniat melangsungkan pernikahan. kedua kakak saya, yang entah karena malu jika mama saia tidak bisa menghadiri pernikahan anaknya, entah karena dicibir mulut yang tidak bertanggung jawab, memaksa berharap mama saia pulang demi pernikahannya. atau dia tidak akan menikah. cincin pertunangan sudah disematkan walaupun dengan usulan sang calon mertua. dengan umur dan cincin yang sudah melekat, tentu seorang ibu tidak tega bila anakknya tidak jadi menikah.
entah karena alasan apapun, bagi saia itu egois. demi kepentingannya dia lupa bagaimana nasib dan keinginan mama saia.
mama pergi ke tanah asing karena suatu dan banyak hal, suatu hal, hal yang lain..dan..sesuatu (banget). terjepit antara didorong keluar dan ditekan masuk sambil membawa beban.
lari sambil membawa beban bukan pilihan bijak karena suatu saat toh memang harus kembali, tapi biarlah mama yang memutuskan.
mama saia hidup dengan motto : mama hidup demi anak-anak
saia yakin betul mama saia sudah berbakti sebisanya tidak hanya pada orang tua tapi juga bertanggung jawab terhadap hidup adik-adiknya sejak usia dini, menikah muda dan kemudian mengabdi pada suami dan keluarganya (yang agak brengsek kurang bisa menerima), dan kemudian lahir empat tiga anaknya yang egois ini. seluruh hidupnya, air mata, keringat dan darah, dalam arti yang sesungguhnya didekasikan demi sekelompok makhluk protein, air, dan darah yang egois ini. sampai pada hari ini saia kemudian berpikir,
kapan mama saia hidup demi dirinya sendiri? demi kebahagiaan dan keinginan pribadi egoisnya?
mungkin seorang mama, setidaknya saia tahu mama saia, pantas diberi gelar pahlawan. kriteria seperti berbakti, tumpah darah memperjuangkan apa yang berharga, dan tidak mementingkan kepentingan diri sendiri sudah dipenuhi. saking konsentrasinya sampai sepertinya lupa bahwa mama juga seharusnya punya kepentingan dan hidupnya sendiri..
saat si gumpalan darah tadi menghasilkan gumpalan darah yang lain..
sampai menjadi seorang mama-papa pun keegoisan seorang anak tidak serta merta mandeg. selama dirinya masih melihat ada panutan glandotan untuk menggantungkan beban, keegoisan masih akan jalan.
dengan alasan sayang cucu, ingin melepas penat atau sibuk, si gumpalan darah yang mulai beruban menitipkan gumpulan darahnya yang masih segar itu kepada orang tuanya..
dengan segala kerepotan yang dia tidak mau tahu berusaha, dititipkannya buah hatinya yang seharusnya dijaga oleh dirinya sendiri kepada orang tuanya yang seharusnya sudah saatnya bersenang-senang dan menikmati hari tua.
saia tahu saia belum punya anak, menikah saja belum. tapi sejauh mata saia memandang, mulai teman, relatif, keluarga, temannya teman, saudaranya teman, temannya saudara, saudaranya saudara, intinya semua, semua, semua yang saia lihat melakukan hal itu. saia harap saia nanti bisa cukup tahu diri dan diingatkan kalo saia pernah nulis post ini.
disaat sudah tidak ada lagi sosok yang mendengarkan rengek dan manja kita serta mengabulkannya dengan segala macam usaha..
keegoisan pun ternyata tidak berakhir.
dengan dalih anak tertua, anak laki-laki, anak kesayangan, anak paling berbakti, dengan yakin melantangkan bahwa peninggalannya adalah milik kita.
membawa nama semasa hidupnya dan bersaksi itu adalah untuk kita yang diraih dengan susah payah semasa hidupnya dan kita nikmati sewaktu telah tiada…

Recent Comments