10 things i would like to do in 2012

new year new post

some people bothering to discuss about this year which likely come to an end.

Some people hardly ignoring it and starting their routines of new year resolution, well yeah it doesnt work for me :)

this year i hope i can finish my thesis on first round which is around march and will graduated around september (although i dont need graduation ceremony and stuff since no one will come and celebrated it anyway :) )

Whether the human race will come to an end this year, eventually all human race and every individual will come to an end. it just how we face it and knowing that this is a normal line of our life.

every hello knotted with a good bye.

my college life have to and i wish will end this year. sooner better

well, planning to get scholarship abroad and stuff but since everything is not sure yet i have to fill the retirement mode with something that i see as a “fun yet useful” stuff. hohoho

of course i have to do some research about the program, where, when, why and how to get the scholarship and the program. i havent decided about any approximate details yet though.. kkk

so around a year, more likely this year until earlier of next year i will have a not-so-holiday-days..

mostly my family would like to order me around, to do stuff of their duty, or do something so they dont see me enjoying times of my life. hahaha. life #okey

after all the thesis stuff ended i would like to :

1. make a passport
holy shit! LOL i just got my birth certificate, which is needed for making a passport, which is… lost.. hahaha. i feel like a new born babies ROFL. kidding.
2. travelling.
i dont care where or when. anytime and anywhere would be nice. i even havent go to my country’s capital city, Jakarta. how sad, okey.. :’(
maybe a week in china, or a week in bali plus lombok and the island around it, or a 3-or-5-days in karimun jawa again, or a week in Penang-KL-SG, or a 3-days-backpacker to HK, or 2 weeks in Korea. LOL. so greedy
3. learn about design and sewing.
i remember i posted that i would like to learn make up, design, sewing, and cooking through courses. but then i re-think that i have a modern like budget (read:minimalism). so i had to choose carefully of which courses i should take.
make up, umm, i still would love to learn it professionally if i have extra money or if someone pay it for me LOL but i guess for now i can learn it through books and videos from internet. i’m currently in middle of loving make up and hair do :3
cooking. speaking of cooking (or bakery which i prefer), the courses in here doesnt support the student to really be a professional chef. we only learn through watching, its more like a demo. so why should i got another one? i dont get any certificates yet i dont get any real-field-experiences. i will buy a really nice fancy pan, oven, and pot. is not that my food taste really bad, it just wont poisoned you and i’m willing to learn it so it’ll eventually tastes better. hahaha. but i guess after all experiences and learning through doing will make something turn better, including cooking and baking.
4. buy stuff.
fancy pan, revolutionary-home shopping-pot, healthy-supportive-pillow, new (i)phone :D
make up and hair stuff (roller, curling iron, straighten iron, nail polishes, eyeliner, BB cream and stuff) :D too much but have it already, too greedy no money so sad :’(
oh also sewing machine! ah :3 me gusta~
5. gardening
sunflower. sunflower. sunflower.
why?
sunflower always look at sun. always. every single day. every single minute. not tired. for her lovely ones. no regrets. no doubt. waiting and stand prettily for him.
6. study languages
korea and chinese. with certificates. but korea first LOL i no heart chinese.
7. pampered physical
i’ve been dreaming a lot about stretching my back, my leg and jump fearlessly a lot since back then.
ballet, or just dancing because i am old. and old man has stiffed body. LOL so sad
martial arts. probably wushu or taichi or karate or judo. any martial arts would be nice. but i wont go to that place again. they dont want me. so sad. real sad.

8. get some temporary jobs
a-non-contract-job. just so my family wont bothering me spending money and having fun. hahaha. so i can quit of i get my scholarship. or open my own business, a nail art booth :3
9. invest
i’m not really sure and i dont really care what kind of investment. gold or business. have to save some money to get some more for sure. hahaha
10. clarify things.
be brave enough to talk with older ones. be clear and cool headed enough to clarify things. be patience enough to not get emotionally involved. be grown up enough to forgiving. be lovely enough to embrace myself for mistake i didnt made. and all above those, have time to speak it and people i love to support me. to get rid of this burden.

wish all my wishes can be granted :)

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

mantan pembunuh, calon pembunuh dan penikmat membunuh

kelas 2 SMA aku mulai mengikuti pelajaran katekumen yang diadakan sekolah untuk masuk ke dalam agama Katolik. kelas kecil yang berisi sepuluh orang ini dipimpin oleh seorang suster yang telah ditentukan oleh gereja wilayah. setiap minggu pagi selama satu setengah jam selama setahun, bukan waktu yang panjang dan juga bukan waktu yang pendek.

hari ini mendung, sempat hujan dan sempat panas. sama seperti minggu itu.
suster katekumenku menjelaskan tentang 10 perintah Allah, dan salah satunya adalah jangan membunuh.

dengan suaranya yang tenang dan rendah, suster menjelaskan, “membunuh tidak hanya secara fisik, tidak hanya manusia atau hewan, tapi juga jiwa. perasaan”

“bukannya membunuh hewan dan manusia wajar, tapi membunuh sesuatu yang tidak kelihatan, itu yang lebih diwaspadai. kita tidak tahu kapan kita ‘membunuh’ orang lain, kita tidak bisa meminta maaf dan memperbaiki kesalahan yang kita perbuat, kita tidak bisa membangun kembali jiwa, perasaan, dan kepercayaan diri orang yang telah kita ‘bunuh’.

mungkin jika kita membunuh manusia, manusia tersebut akan merasakan sakit sampai dia mati. jika kita membunuh perasaan dan harga dirinya, rasa sakit itu akan terus terbawa setiap hari sampai dia tua dan mati. penderitaan yang dibawanya begitu besar dan menumpuk banyak tapi kita tetap tidak tahu kita telah membunuhnya perlahan.”

sering kali kita dengar, bahwa lidah tak bertulang, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. dan seringkali kita menjadi pembunuh, atau bahkan menikmati “membunuh” harga diri, perasaan, dan jiwa seseorang. seringkali, saia, kamu, anda, dia, mereka, dan kita semua membunuh orang lain.

menjatuhkan harga diri, membeberkan hal yang memalukan, mencela, memutar balikkan fakta, menghakimi, memfitnah, mencemooh, menyindir.

kamu dan aku sama-sama pembunuh.

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

sebuah review

tahun 2011 akan berakhir beberapa hari lagi, tepatnya 19 hari.
sungguh tahun 2001 adalah tahun yang berwarna, setidaknya bagi saia.

banyak hal yang terjadi, jatuh cinta, putus cinta, sambung hidup, putus asa, berjuang mati-matian, part time, COP, .
magang tiga bulan (kepahitan saia bisa ditelusuri di beberapa post di blog ini), seminar ato yang juga dikenal dengan proposal skripsi yang pengerjaannya luar biasa cepat (cuma seminggu), dan skripsi saia yang…berujung dilanjutkan di semester depan. hahaha

kalo perjuangan diceritakan satu-satu rasanya ga cukup, makanya post ini dinamain “review”. bagus juga buat diri sendiri untuk melihat ke belakang sejenak dan belajar dan sedikit buruk karena hidup gue digembar-gemborin, tapi gapapa, gue bukan public figure yang pake jambul setnggi monas dan ga pake bulu mata setebel bulu kelek tarzan.

yang jelas banyak yang dipelajari dari hidupku setahun ini, sungguh, 2011 membawa berkat untukku. hidupku ga pernah seberwarna ini. begitu banyak masalah, cobaan dan tantangan sebelum nantinya setelah lulus masuk ke dalam masyarakat.

tentang pasrah :
tentu sebagai manusia normal banyak target-target baik jangka pendek maupun panjang yang sudah ditetapkan. salah satunya adalah lulus semester ini. biaya, dukungan orang tua, rasa capek ngekos selama 4,5 tahun, rasa malu, dan kebersamaan bersama teman-teman dipertaruhkan.
bukan diri sendiri yang menanggung, tapi juga orang tua, berusaha tiap hari, subuh hingga malam. sungguh semuanya terasa sia-sia disaat teman-teman sedang sibuk memburu agar tepat waktu dan saia cuma bisa menyemangati sambil memaksa senyum. saia tulus kok temen-temen saia lulus, sangat tulus dan mendukung, saia tahu bagaimana susahnya mereka, janjian ketemu dosen pembimbing yang cuma 10 menit tapi ngantri 5jam di kampus, diserobot sama mahasiswa lain yang ga tau diri, cari informan/responden yang cerewet, dan melekan bareng.
yang berat adalah mengasihani diri sendiri agar tetap tegar dan kuat. sungguh perih bahkan dosen pembimbing juga menguatkan. malu rasanya, saia tidak ingin dikasihani, saia hanya mau lulus.
saat itu saia berpikir, saia harus lulus, tidak ada pilihan atau jalan lain, tidak perduli revisi seabreg, skripsi tidak sempurna, nilai pas-pasan. saia cuma pingin lulus semester ini. lulus. maju skripsi.

tapi semuanya ga berjalan sebagaimana mestinya. dan saia harus menguatkan diri saia sendiri yang mentah-mentah menolak kenyataan bahwa saia lulus dari kuliah 10 semester.

tiba-tiba saia teringat masa kecil saia. saia TK (taman kanak-kanak) selama 4 tahun. keinginan saia sekolah lebih awal terwujud. entah karena apa saia bisa menyelesaikan dua tahun masa studi untuk TK tepat waktu dan saia begitu menggebu-gebu untuk masuk ke SD. kepala sekolah terang-terangan menolak. mama saia bersikeras bahwa saia lahir di awal bulan, jadi sebenarnya saia kurang umur satu tahun untuk masuk ke kelas 1 SD. dan perbincangan selama 40 menit itu berlangsung percuma. dan saia memaksa mama saia untuk melanjutkan negoisasi dengan kepala sekolah bahwa saia yakin seyakin yakinnya saia mampu mengikuti pelajaran SD karena saia lulus dengan nilai memuaskan. nyatanya tak bergeming, dan saia harus menunggu dua tahun dengan masuk ke TK, lagi…

kemudian saia berpikir, andai waktu itu saia masuk SD, mungkin prestasi saia tidak sebagus yang saia miliki sekarang ini, saia tidak akan ketemu teman-teman saia, saia tidak akan ketemu dengan dia yang saia cintai. kehidupan akan berubah, dan saia senang dengan kehidupan saia yang sekarang, cinta teman-teman dan dia. kalo saja saia masuk SD dua tahun lebih cepat.. dan saia menyadari lagi, bahwa semuanya baik pada waktunya, hanya saja saia baru menyadarinya sekarang.. 16 tahun dari waktu itu!
sungguh kita tidak akan paham dengan rencana kehidupan ini, cepat atau lambat, kita akan dan harus bersyukur, lebih cepat lebih baik, penyesalan dan kepahitan yang tersimpan toh nyatanya tidak akan mengubah apapun. entah 16 tahun ini tergolong cepat atau lambat… LOL

tentang 20/80 :
ada sebuah prinsip dalam pernikahan, yang saia rasa dapat diterapkan di bidang lain selain pernikahan. dalam film “why did i get married?” diceritakan tentang pentingnya prinsip 20/80. disaat kita mempunyai 80%, kita begitu terlena dengan segala kebaikan dari 80% tersebut dan saat kita melihat 20% sisanya yang tidak pernah kita lihat dan seketika kita merasa 20% itu begitu indah dan kita tidak memilikinya, sejenak melupakan 80% yang begitu ideal yang telah kita miliki.

entah tiga bulan yang saia lalui termasuk cepat atau lambat. setidaknya saia tersadar dan tidak sampai terseret ke 20% bak fatamorgana. selanjutnya 20% manapun tidak akan saia ijinkan untuk lewat di depan mata. mungkin ada baiknya saia menciptakan 20% saia sendiri yang tidak merugikan saia, seperti… iPad dan kecepatan internet yang ga bodoh, yang smart dan harus benar-benar smart. :D

tentang diam yang lebih kaya daripada kata :
disaat kata-kata tidak cukup untuk menyampaikan apa yang sebenarnya dirasakan dan dipikirkan, disaat kata-kata malah merancu sebuah kebenaran, disaat itu hanya ketulusan dari sebuah aksi yang dapat membuktikan kebenaran. dan saat-saat seperti ini yang sedang tekun saia kerjakan, ada kalanya saia muak dan ingin cerewet untuk memberikan penjelasan dan kebenaran seperti biasanya, tapi ada ketakutan bahwa semuanya sia-sia dan malah memperburuk keadaan. dan disaat seperti ini, saia belajar untuk diam dan tulus melakukan sesuatu tanpa meminta balasan yang berarti. mencoba bahagia hanya dengan memberi.

tentang kedewasaan :
hingga detik ini aku sungguh tidak paham dengan konsep “kedewasaan” yang digembar-gemborkan banyak orang. yang katanya HARUS dimiliki seiring bertambahnya usia.
memiliki pekerjaan? tampil rapi? menghidupi seseorang? sabar? tenang? tidak ceplas ceplos?
sungguh tidak pahamnya dan bersedia berdiskusi dengan seseorang yang bisa menjelaskan dengan “dewasa”. tidak paham kenapa harus dimiliki.

sampai detik ini, saia, sebagai manusia, sedari kecil bertekad tidak akan dewasa. boleh lah anda tertawa dan tertawalah sampai puas.
pernah dengar bahwa pikiran manusia itu kuat dan besar? saia buktinya.
entah tekad saia yang begitu kuat atau hal itu memang besar di alam bawah sadar saia. saia tidak tumbuh kecil seperti ini begitu saja. pertumbuhan saia sangat amat terlambat karena saia menolak untuk tumbuh dewasa.
mungkin juga ini semacam suatu penyakit yang kebetulan membuat saia yang menolak mentah-mentah untuk tumbuh dewasa tetap seperti anak kecil.
dengan pertumbuhan estrogen yang baru saia alami pertama kali kelas 2 SMA, yang kemudian mandeg dan lanjut lagi kelas 2 SMA dan mandeg lagi dan keluar lagi waktu semester enam, saia sadar bahwa saia terlambat bertumbuh.
secara biologis saia masih memiliki gigi susu yang seharusnya sudah diganti dengan gigi dewasa saat manusia lainnya mengalami hal tersebut pada umur delapan tahun. disini saia 14 tahun kemudian masih menggunakan gigi susu yang seharusnya sudah pensiun itu.
saat 21 tahun saia sempat berpikir selama sebulan, mungking sudah saatnya saia melunak dan saia mulai belajar sedikit “menerima” agar saia bisa sedikit dewasa. saia ingat betul itu adalah akhir bulan di tahun 2009 saia membicarakan hal tersebut bersama dia, dan awal tahun 2010 tumbuh gigi dewasa saia walaupun cuma secuil. dan tak lama setelah itu saia kembali berpikir bahwa “menjadi dewasa tidak menjanjikan”, “orang dewasa tidak bagus-bagus amat” dan sebagainya dan pertumbuhan itu berhenti. kali ini saia rasa kebetulan, dua tahun kemudian, sekarang ini, tidak ada pertumbuhan yang berarti dari saia.

secara simpel, saia berpikir dan menentang “kedewasaan” seperti ini. hidup selama 22 tahun 11 bulan saia melihat dan menyaksikan dengan seksama bagaimana orang-orang yang mengaku “dewasa” dan memaksa menganjurkan saia agar tumbuh dewasa tadi bersikap kekanak-kanakan. saia tidak melihat kesinambungan dari perkataan, anjuran dan sikapnya dengan konsep “kedewasaan” yang dia sendiri sampaikan. mungkin dia berbohong. mungkin kesalahannya adalah kekhilafan. mungking dia memang belum dewasa, seperti pemahamannya.

saia tidak peduli.
bagi saia dia tidak dewasa. dan dia tidak bisa menepati janji dan omongannya, setidaknya itu yang harus dilakukan semua orang, tua atau muda.

di mata saia, orang-orang “dewasa” tersebut melakukan hal-hal yang tidak pantas demi dirinya sendiri, suka tidak suka. demi harga diri, demi sebuah status sosial, demi “kebahagiaan bersama”, demi dan demi, yang dilakukan berbeda dengan apa yang dikatakan.
orang-orang “dewasa” tersebut sungguh pintar menemukan kesalahan orang lain dan mengajari apa yang baik dan yang tidak, mengajurkan agar orang tersebut menuruti katanya. dan orang “dewasa” tadi tidak bisa menerima kritik, katanya apa yang dilakukannya benar, karena begitu yang masyarakat lakukan, karena ia mau tidak mau demi ini dan demi itu walaupun berbeda dari apa yang dikatakan.
orang “dewasa” yang bersenang-senang dengan cara yang konyol dan tidak berguna, bahkan melanggar dan hanya untuk “orang yang sudah dewasa”
dewasa yang tidak bisa percaya dengan siapapun dan apapun, yang hidup dalam kecurigaan dan untung rugi.

saia sudah muak dengan konsep “dewasa” yang ditawarkan sejauh ini. saia sudah muak dengan orang yang mengaku “dewasa” dan bertingkah kekanakan. bahkan anak-anak sendiri sudah jauh lebih baik, lebih bijak dalam mengambil keputusan dan menyadari kesalahan daripada sekelompok “manusia” yang mengaku “dewasa” tadi.

saia tidak menolak untuk tumbuh dewasa, jika ada seorang nanti yang menunjukkan saia kebenaran dari kedewasaan itu sendiri. jadi saia akan memilih untuk tetap menjadi anak-anak, yang ribut, yang riang, yang polos, yang ceplas ceplos, yang tetap mengatakan dan melakukan kebenaran walau menyakiti orang lain, yang tidak peduli akan status sosial, batasan umur agama dan gender, dan bermain menikmati hidup. setidaknya tidak akan ada anak-anak lain yang sakit hati dan menolak kedewasaan dan orang dewasa seperti saia dengan melihat saia bisa hidup, makan, bermain, belajar, dan bahagia seperti manusia lain walaupun saia berbeda dan menentang arus. walaupun saia tetap seorang anak-anak dalam usia yang seharusnya sudah “dewasa”.

sesungguhnya, anak-anak adalah beda dengan kekanak-kanakan

dan disinilah akhirnya. saia siap menyambut warna-warni, gelap dan terang tahun 2012.

Posted in Uncategorized

Permalink 2 Comments

antara pendidikan dan manusia yang terdidik

벼는 익을수록 고개를 숙인다.
稻穗越是熟成越是低頭 意旨有實力的人更需要謙虛.
educated one should be more humble and polite.

bahasa indonesia-nya kira-kira kaya begini :
bak padi, semakin berisi semakin merunduk.

kita ini diibaratkan padi. bagaimana kita dapat “berisi”?
banyak.
pengalaman. pendidikan.
yang seharusnya membuat kita terpelajar dan mampu menjalani hidup dengan “baik”.
sesungguhnya pelajaran formal selama sekolah tidak membuat seseorang menjadi terdidik.

kita, banyak orang, termasuk saia, mengestimasikan, memperkirakan bahwa dengan pendidikan dan pengalaman yang telah banyak direguk membuat seseorang lebih rendah hati dan sopan.

tau diri gitu la.

nyatanya tidak seperti itu.

anu ya, gimana ngomongnya, agak susah terkadang untuk menerapkan ilmu yang kita dapatkan selama menempuh bangku sekolah atau dan kuliah dalam kehidupan sehari-hari.

apapun alasannya, bijaknya pendidikan apapun yang kita terima dapat kita terapkan. nanti di postingan selanjutnya saia akan coba untuk menuliskan secuil ilmu yang saia dapatkan, jurnalistik, yang dapat diterapkan untuk kehidupan sehari-hari.

memang, hidup tidak akan pernah habis untuk belajar.

bumi ini sendiri sudah terlalu luas untuk kita pelajari.

ditambah dengan manusia manusia yang tidak ada cetakannya sama persis. tambah rumit memang.

cuma yang perlu kita sadari, apapun yang kita pelajari, sebanyak apa yang kita pelajari, masih ada langit di atas langit.

masih ada orang yang lebih pintar, masih ada buku yang belum kita baca, masih ada pengalaman yang belum kita alami dan pahami.

janganlah sombong, tak guna itu, malah membuat diri sendiri terlihat bodoh dan bebal dengan berpikir kita lebih “yes”, lebih pintar, lebih benar, dan lebih-lebih lain.

kebenaran mutlak itu kebeneran yang benar di mata kita sendiri. buat apa berdebat dengan “kebenaran” kalau semua adalah benar dan baik di mata masing-masing pemilik pendapatnya?

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

saia memilih bersyukur

saia memilih bersyukur untuk dapat menemukan orang-orang yang saia cintai dan dapat menyampaikan rasa cinta itu
walaupun saia tidak dapat bersama dan harus menyampaikan cinta tersebut dengan diam-diam dan hati-hati. kalau-kalau orang-orang yang saia cintai dilukai dan terluka oleh orang-orang yang mereka cintai karena tindakan saia.

saia memilih bersyukur untuk dapat sedikit belajar berserah dan tabah
walaupun saia tidak dapat memilih dan mendapat apa yang benar-benar saia inginkan, menjalankan yang saia tidak inginkan plusmendapat cemooh serta sindiran atas hal tersebut. tapi dari sanalah saia belajar sedikit demi sedikit, mau tidak mau, untuk lebih berserah dan belajar merelakan, belajar melepas, belajar untuk tidak melekat walaupun bukan tidak mungkin suatu saat saia akan lupa.

saia memilih bersyukur walaupun saia tidak tumbuh besar dengan kehadiran ibu mulai dari puber hingga sekarang. dengan hidup sendiri dan menangani PR [pekerjaan rumah, literally], saia belajar apa yang kebanyakan perempuan seperti dan seumuran saia seharusnya belajar.
walaupun karenanya saia harus menukar masa remaja saia dengan menghabiskan waktu, uang, tenaga dan pikiran dengan hal-hal yang tidak saia maui, yang tidak saia kehendaki, dan segala “tidak” yang dapat disebutkan.

saia memilih bersyukur untuk dapat sedikit menghabiskan waktu dan menghisap sedikit rasa manis dari momen yang saia habiskan dengan orang-orang yang saia cintai.
cepat atau lambat semuanya akan hilang dan saia akan merindukan tiap detail yang saia habiskan bersama orang-orang yang saia cintai. dan untuk itu saia harus belajar menahan diri saia sendiri, pikiran sendiri untuk khawatir kapan saat bahagia ini akan berakhir.

saia memilih bersyukur walaupun keinginan tidak dapat dipenuhi dan hidup terlihat tidak seindah yang sebagaimana yang digambarkan kebanyakan orang. nyatanya menyesal tidak akan membuat hidup dan kenyataan lebih baik.

saia rasa hidup saya sudah cukup melelahkan dengan tidak memiliki hal-hal standar yang dimiliki kebanyakan manusia lain untuk bisa bertahan menghadapi cobaan. tapi akan lebih capek lagi bila saia menghabiskan waktu senggang dari hidup saia yang membosankan dan melelahkan tadi dengan menyesal, meratapi, dan mengomel. waktu senggang yang bisa saia habiskan untuk bersenang-senang malah akan habis dan saia tidak bisa mengumpulkan tenaga lagi untuk menjalani hidup.

memilih untuk menghabiskan waktu senggang dengan benar-benar menikmati dan menghargai apa yang saia miliki terdengar lebih baik. saia jadi tahu betul, menghargai betul
apa yang harus saia jaga
apa yang harus saia simpan
apa yang harus saia syukuri
apa yang berharga bagi saia.

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

egoisnya seorang anak

dari orok sampai ketiadaan orang tua (bahkan beberapa sampai orang tua tiada) tetap menjadi seorang anak (yang egois).

saia tidak akan mengutik-utik urusan “kasih ibu sepanjang masa kasih anak sepanjang galah” walau sejumput kecil ibu membunuh dan membuang anaknya sendiri.

mari kita coba sama-sama runtut.

orok.
jabang kecil yang dimulai dari sebesar ibu jari ini hingga 3-4 kilogram minta diperhatikan tiap harinya oleh si ibu (maupun bapak kalo lagi ngidam). ga mau makan daging, amis. mau yang kecut, mau manis. kata siapa? kata jabang bayi. kalo ga dituruti ntar ngiler loh.
nah loh. dari kecil udah belajar ngancem, jangankan ngomong, melek aja belum tapi udah ngancem. apa jadinya kalo gede.

bayi.
kerjaannya apa kok egois?
NANGIS
pernah liat bayi lapar? pernah tau bayi ga nyaman trus kebangun? pernah tau bayi cari perhatian?
taunya dari mana? nangis kan?
betul bayi belum bisa ngomong, tapi kalo misalnya susunya diganti dengan yang lain, dan si bayi ga doyan, dia pasti nangis. walau udah dicampur dengan susu biasanya si bayi akan tau rasanya beda. beberapa “nrimo” beberapa lagi nangis. ga peduli si ibu berniat baik dan mengganti dengan susu yang lebih mahal, ato orang tua lagi kere dan ganti yang lebih murah.

pokoknya aku mau susu yang biasanya!

kata si bayi. egois lagi.

anak-anak.
beranjak lebih besar, si orok sebesar dua centimeter tadi udah bisa milih, nangis, bahkan beberapa bicara bahasa internasional. tentu pilihan semakin luas.
mulai dari game terbaru, hape, sampe makanan. si orok becek berwarna merah tadi sudah pandai merayu dan beberapa berdusta agar keinginannya bisa tercapai.
mulai dari berjanji akan memakan sayuran, belajar lebih giat, tidak minta barang lain dan lain-lain.
saia si dengan pikiran khas pedagang namun dengan kecenderungan lebih ke arah edukasi, saia versi anak-anak memohon setengah memaksa kepada orang tua saia, mama saia khususnya karena papa saia tidak terlalu peduli pada pendidikan, untuk masuk ke sekolah favorit yang harganya cukup membuat menelan lidah kala itu.
maklum, tanggungan mama saia banyak, tidak cuma anak dengan tetek bengeknya (baju, sekolah, buku, les, games, jajan, dll) tapi juga orang tua dan ponakan dan dirinya sendiri. dengan diplomatis saia menghitungkan kalkulasi biaya yang harus dikeluarkan orang tua saya jika saya sekolah di sekolah “warisan” sama seperti kedua kakak saya dan sekolah favorit pilihan saya. saya yang masih sembilan-sepuluh tahun membandingkan materi yang saya dapat dan status sosial yang bisa saia raih di masa depan yang berguna apabila saia bisa sekolah di sekolah favorit pilihan.
egois. saat itu saia tahu saia egois. tapi saia pikir alasan di belakang itu, yang saia kemukakan tadi itu jujur dan sudah saia perhitungkan. entah si mama terhasut dengan aksi diplomatis saia versi umur 10 tahun, entah karena kasihan entah karena asal menuruti keinginan muluk anak terakhirnya ini, mama mengijinkan saia sekolah di sekolah favorit. intinya tetep egois.

remaja.
beranjak dewasa dan memasuki frase akil balik.
setengah dewasa setengah anak-anak.
minta diperlakukan seperti orang dewasa tapi masih bertingkah seperti anak-anak.
keegoisan semakin melunjak.
pakaian paling trendi. gadget paling yahud. uang jajan spektakuler.kebebasan absolut. fasilitas komplit. semua ingin yang terbaik. demi sebuah image.. demi sebuah gambaran diri sendiri kita mengorbankan orang tua yang padahal mencintai kita apa adanya.
kita ngotot beli hape terbaru, sedangkan orang tua belum memiliki (zaman saia SMP) atau sekarang memiliki tapi masih sebatas bisa telpon dan sms.
uang jajan untuk nongkrong dan kongkow atau jjs atau game online yang diminta dengan setengah ngotot, setengah ngancem, atau setengah mata berbinar. padahal orang tua sudah lupa sama yang namanya jajan, icip-icip makanan, yang ada cuma menghabiskan makanan sisa kita karena kita ga doyan.
saia masih ingat saat itu, saia masih SMP, saat kedua anak perempuan mama saia dibelikan baju baru tiap tahunnya untuk suatu event, sedangkan saia melihat mama saia tidak pernah beli baju baru seingat saia. jadi kira-kira 13 tahun mama saia sudah tidak punya baju baru. saat ditanya, jawab mama cuma “buat apa, mama sudah tua..”

20an
usia dimana pikiran sudah sedikiiiiit mulai lebih dewasa namun tidak kalah egoisnya.
disaat pilihan menjadi semakin gila-gilaan.
mulai pilihan normal sampai abnormal.
katakanlah normal seperti jurusan kuliah, pacar, kos tidak kos, mobil atau motor dan uang saku.
abnormal seperti gay atau homo atau lesbian, rokok, drugs, hamil, narknoba, dan kriminalitas.
disaat seperti ini si anak yang tadi merengek minta punya hape, sudah merasa “besar” dan berhak mengambil keputusan sendiri tanpa campur orang tua walaupun kalo mereka terpuruk mereka akan kembali ke orang tua.
biasanya, si orok yang beberapa udah mulai penuaan dini ini ambil keputusan-keputusan tanpa sepengetahuan orang tua atau memaksa dan membantah yang pada akhirnya tetep keukeuh pada pilihannya sendiri. semakin egois.

saat sudah akan meninggalkan status sebagai anak.
dengan kata lain, memulai hidup baru, keluarga baru.
pada fase ini, kebanyakan orang tua akan berusaha memberi anak mereka yang terbaik, karena mereka tau, kalo anak mereka yang selalu terlihat sebagai “baby tercinta” ini sudah waktunya lepas dari pelukan mereka.
pesta meriah, hall terluas, gaun dan jas terbagus, undangan limited yang sekena hati ratu dan raja semalam tadi. soal dana urusan orang tua, soal undangan urusan kita walaupun kita ga mengundang beberapa pihak yang tidak kita sukai dan mencoreng nama baik orang tua…

out of context, dalam kasus saya adalah kakak saya, yang keduanya sudah cukup umur dan keduanya berniat melangsungkan pernikahan. kedua kakak saya, yang entah karena malu jika mama saia tidak bisa menghadiri pernikahan anaknya, entah karena dicibir mulut yang tidak bertanggung jawab, memaksa berharap mama saia pulang demi pernikahannya. atau dia tidak akan menikah. cincin pertunangan sudah disematkan walaupun dengan usulan sang calon mertua. dengan umur dan cincin yang sudah melekat, tentu seorang ibu tidak tega bila anakknya tidak jadi menikah.
entah karena alasan apapun, bagi saia itu egois. demi kepentingannya dia lupa bagaimana nasib dan keinginan mama saia.
mama pergi ke tanah asing karena suatu dan banyak hal, suatu hal, hal yang lain..dan..sesuatu (banget). terjepit antara didorong keluar dan ditekan masuk sambil membawa beban.
lari sambil membawa beban bukan pilihan bijak karena suatu saat toh memang harus kembali, tapi biarlah mama yang memutuskan.

mama saia hidup dengan motto : mama hidup demi anak-anak
saia yakin betul mama saia sudah berbakti sebisanya tidak hanya pada orang tua tapi juga bertanggung jawab terhadap hidup adik-adiknya sejak usia dini, menikah muda dan kemudian mengabdi pada suami dan keluarganya (yang agak brengsek kurang bisa menerima), dan kemudian lahir empat tiga anaknya yang egois ini. seluruh hidupnya, air mata, keringat dan darah, dalam arti yang sesungguhnya didekasikan demi sekelompok makhluk protein, air, dan darah yang egois ini. sampai pada hari ini saia kemudian berpikir,

kapan mama saia hidup demi dirinya sendiri? demi kebahagiaan dan keinginan pribadi egoisnya?

mungkin seorang mama, setidaknya saia tahu mama saia, pantas diberi gelar pahlawan. kriteria seperti berbakti, tumpah darah memperjuangkan apa yang berharga, dan tidak mementingkan kepentingan diri sendiri sudah dipenuhi. saking konsentrasinya sampai sepertinya lupa bahwa mama juga seharusnya punya kepentingan dan hidupnya sendiri..

saat si gumpalan darah tadi menghasilkan gumpalan darah yang lain..
sampai menjadi seorang mama-papa pun keegoisan seorang anak tidak serta merta mandeg. selama dirinya masih melihat ada panutan glandotan untuk menggantungkan beban, keegoisan masih akan jalan.
dengan alasan sayang cucu, ingin melepas penat atau sibuk, si gumpalan darah yang mulai beruban menitipkan gumpulan darahnya yang masih segar itu kepada orang tuanya..
dengan segala kerepotan yang dia tidak mau tahu berusaha, dititipkannya buah hatinya yang seharusnya dijaga oleh dirinya sendiri kepada orang tuanya yang seharusnya sudah saatnya bersenang-senang dan menikmati hari tua.
saia tahu saia belum punya anak, menikah saja belum. tapi sejauh mata saia memandang, mulai teman, relatif, keluarga, temannya teman, saudaranya teman, temannya saudara, saudaranya saudara, intinya semua, semua, semua yang saia lihat melakukan hal itu. saia harap saia nanti bisa cukup tahu diri dan diingatkan kalo saia pernah nulis post ini.

disaat sudah tidak ada lagi sosok yang mendengarkan rengek dan manja kita serta mengabulkannya dengan segala macam usaha..
keegoisan pun ternyata tidak berakhir.
dengan dalih anak tertua, anak laki-laki, anak kesayangan, anak paling berbakti, dengan yakin melantangkan bahwa peninggalannya adalah milik kita.
membawa nama semasa hidupnya dan bersaksi itu adalah untuk kita yang diraih dengan susah payah semasa hidupnya dan kita nikmati sewaktu telah tiada…

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

about growing up

we heard it a lot since we just a snoozing kid playing with unbuttoned shirt in play ground.
mom, dad, teacher, sister, brother, friend, mentor. every one said that, it is for your happiness.. but…

BUT

but please do that, you have to do this, dont forget these things, and last thing work on those things first..

they ask us to do so many things for own happiness.

is it true that they want the best for us? wishing us for happiness? and ask to do blah and blah?

is it…? for their own happiness?

i knew what it feels and look or sound like living like a doll, everybody want the best for me for my own sake and i granted all their requirement and i did not happy.

in fact they dont know what can make me happy yet still bluffing around saying this is for my happy ending.

its their right and their duty to warn us good stuff and saying their opinion that THEY think its best for us. but it is not right to force us to do something for our own happiness!

hey we are grown up already..

they following question will be

“how do you think you are grown up already?”

you are still young, you dont know world, you are still teens, you are still early 20′s, you are not married yet and so on.

let me say : BLAH. stfu

you know, if you are saying those stuff, you are not grown up too. because what? no one is grown enough, in their whole entire life, human will still learn and growing up every single day when they live their live. no one is exactly the same, they evolutes each day, every event that occur, every experience that they learn make they a new people.

so when is people growing up? never. so how can i say that we grown up already? ok let me bring you to my point of view. lets say from the oldest, when you say people who grown up already is the married one. dont you think no one is prepared enough to get married? grown up already? no one ready of getting married. not enough money, not mentally prepared enough, still want to have fun or none experience! when they get married they are not grown up enough but they WILLING to grown up together and took the consequences.
so grown up after marriage? mm no.

now say, grown up at the end or middle of 20′s. i can say no. people at this age got a job, or property or cars or planning their new family or got one already. but can you say people at this age grown up already. NAH. could you find people at these age acting so ridiculous, so teens, egoistic and not think much? EVERY SINGLE mid-end 20′s around me do so. from family, acquitance , friends, and relatives. they THINK that they are grown up enough already and so they act childish! they think people can obey them because they think they are old already and order anyone younger to do this and that? so how childish they are now?

i am not teens anymore and i do think sometimes teens are the most childish state of human being. but if we look further, for me this is the stage when we should see and treat teens as a growing up human being. they WILL to find the truth by their own hands and they acknowledged their mistakes yet not too long staring at the mistakes they made them self instead stand up, bravely learn it and do something so they can get what they wanted. see how wise they are in that point of view now?

so how people that older think they know the best for someone younger just because they are older?

my lecturer always said, respect the older but not obey them. they are not as smart as you, as brave as you, as wise are you and just purely not as good as you. the differences of you and any older people than you is just age, they knew first but it doesnt mean that you cant do better or understand it best.

so in the end of this post, i want you to search within yourself, ask what the best for yourself and what can make you happy. no one in this world know it but you. happy searching!

growing up : knowing that you did mistakes but willing to learn and get up

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

judgmental person(s)

i post this on my facebook notes but im edited it and post a truly me in my private blog, in here. the reason is they dont need such a detailed information XP and im giving my subscriber a better detailed complicated version, in short im a loyal person to who have been loyal to me. kkk

do you ever feel you wont meet your friends anymore in your ENTIRE LIFE so you want to take pictures with them? maybe they are living abroad, they have another new life, time, place, new interest and so on. everyone have their own way, own path in this world. like me and my junior high school for example, we’ve been best friend like.. forever, but since i got in different senior high school, we never had a chance to meet until she went china. yes i know we still live in same world, or some in same country or even same city, but your schedule and time sometimes not in your side and you both ended live in your own life.

i’m telling you, i am not a saint, but i am not a bitch either. none of us whom read this is saint either i guess. taking pics with some other gender not make me turns into a bitch, a hoe, a whore or a unfaithful girl. talked with a nerd or geek dont made me turn into attention seeker, being nice to someone that home sick doesnt mean im being flirty.

its not i took nude picture, a kissing one or anything that include skinship. i took it in public area and in the noon. am i wrong to take picture with my own friends? even tough they are from different gender than me? do you ever know why you took picture? with your lovely ones, your pet, your family, your friends, or just some mesmerizing scenery? its because the memory will get faded but you want to remember the feeling, the happy ones, time you spent, to see it while you miss it, miss them, or just because you have nothing to do by replay the pictures. you see the world through that frame, but you have to remember that your world is not only what you see in that frame.

everyone is different. including both me and you. i dont mind if you think liberal or Communist or what ever. i dont mind, maybe i will questioning some things though because of course i wont understand all of your action. but is it right to judge someone, put your self higher in better place and look down at me when you know nothing about me? what rights you had to do such lame action? age? gender? power? title? status? money? no one have right to judge other, especially when you know nothing, or just recognize me, just acquaintance, just saw a pictures or hear a word.

if your name is not Google or you are not God, please stop acting like you know everything

am i wrong choosing male as my friends? i have rights to choose my friends. and i have reason to choose male in this case. i think, most woman full of drama, they full of them self, sometimes they think they are most right and the world revolves around them. and when i said most,please dont be offended, unless you think you are that way, beautiful ladies. for guys, dont worry if you have a lot of girls friends, it doesnt make you gay either. i know some guy are too fake, pretending to be rough and strong or have power and money and so whatever.

do you ever know FRIENDSHIP? this word indeed had a wide range of understanding. it doesnt matter if your friend is male, female, low class, high class, thief, scholar, worker, labour, old people, black, yellow, white, short, moslem, catholic, chinese, arabian, fat. as long as you feel comfortable and they understand you well, you both will loyal and stick to each other.

about judgmental, every one have their right to voice out their opinion indeed, like what i am doing now. but please, if you want to be judgmental, at least confirm the truth from the main character, dont be so cheap and judge easily with some words from someone (especially who is not credible), just some glimpse in eyes and you think you knew the whole story. please no. this is a bad habit. and you have no idea what effect could impact someone by your actions.

i wrote this for you both guys and girls, whom i think educated enough to act wise and willing to grown up. please act like a scholars. please consider others.
i have to apologize in the end of this note if i harmed one of you. but its really painful to be judged, wrongly.

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

no marriage? no prob dude

i once posted on how graceful and eager i am to get married in early age (read here) but now let me tell you why marriage (in both early or late age) is not that good

some of you can agree in this post, both, the other ones or not both
it is your right to choose and point out your opinion like what i am doing now.

so, (for me) marriage is just a piece of paper (with stamp, signs and mark and whatever). you know how fragile a paper is? put in on water it will be drown, put in on ground it will get dirty and later the words cant be read, put it away than it will be lost by wind blows, cramp it and it will never get back.

some people cant or not marriage but their love is ever lasting. there is no guarantee if you marry and you and your partner can love each other eternally and unconditionally. my mom do not need to marry me to love me unconditionally and eternally. if you offense me, let me say, do you ever know a 20 or 30 years old marriage couple divorce just because one of them actually not love the husband or wife and keep the feeling of the true love, like for the example the childhood friends? or do you know a wife keep obedient to the husband just because she or her family owe something but her heart and caring still be given to the loved ones?

or some people who love endlessly and passionately in their beginning of their married life and turns divorced? i know there is some marriage couple that last ever after even their life comes to and end. but let me speak of the pro about not marriage. look back at the title budd.

mostly the one who eager for marriage things is woman. its woman habit to get certainty. look at old people when their kids or grand daughter will get married. the woman ones will ask passionately about the male ones, how big is his house, what kind of car, what is his job, how is his family and blah. woman love certainty.

but you know what, nothing is certain in this world, your super fucking rich or handsome or nice boy will eventually turns into bad boy at some point. you heard some people said, boys will be boys.
that is true. and it is forever. the only differences between boys in teen or boys in second puberty is the object of their toys. if teens have robot, cars, or image or girls, then older ones will have fast cars, stocks, ladies or gadget and other stuff. but it is still the same, it just a toys.

and about kids, you dont had to have kids by you own, look at the orphanage. theres a lot of lovable kids who needs your love. and dont be so pessimistic, you own kids can grown up and be worse person than them.

and talking about your lover, you dont need to marry them to. people can still be together and love each other even if they are not married.

about sex. is just your biological needs. you can satisfy it with many others way, if you married because you want sex, then you should work as a sex slave. you get sex and you get money, nothing could be better than that right?

about family heritage and blah. marriage is a matter of a long time life, you dont have to keep your family history unless you are a super duper billionaire or king or if you the only man last in this world.

about your social position. if you reach an “old age” and still single of course people will questing your partner and even excitedly ask you to get married. dont worry, people who truly love you wont bother you to get marry and ended live unhappily. and you dont have to worry either about the other, because they dont think about your happiness, they just need a topic to be rumored and gossip with other, and you have to know that kind of person doesnt deserver your attention. just ignore them.

in the end, married or not is fully your right. just think it wisely. dont take it too rough but dont under estimate it either. its a whole life matter. but in the end you dont know when your “whole life” ends.

regards,

writer

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

re-opening

awalnya blog ini mau ditutup karena si pemilik berniat menutup lembaran hidup yang lama dengan yang baru (baca : pindah blog) tapi kenyataan si pemilik masih sama seperti dulu walaupun ada beberapa hal yang pasti berubah hari demi hari
belum cukup dewasa untuk nge-blog. isinya cuma emosi, kalo ga marah ya sedih ya bete ya apa deh gitu yang ababil

blog yang baru aja dibuat itu ntar deh kapankapan diisi kalo penulis sudah “normal”

jadi sekarang si penulis lagi emosi. emosi yang mana? semua. kecuali senang.
ya patah hati ya jatuh hati ya bingung ya marah ya sedih ya nangis ya benci ya tertekan

emangnya kenapa? ada banyak hal si benernya cuma anakkucink lagi milih yang mana yang enaknya disampahin di blog ini. blog isinya sampah semua kaga ngerti kenapa ada juga yang baca. mana enak to makan sampah?

ya udah. dipilih dipilih.. mm.. ok, start to write a list. yang namanya emosi, apapun jenisnya lebih baik dikeluarkan. kalo ga lamalama busuk. emosi buruk kaya sembelit, yang kalo ga dikeluarkan diisap lagi sarinya trus sari sampah diedarkan ke tubuh. emosi baik kaya buah, ada masanya, kalo kelamaan disimpan jadi berbelatung. samasama busuk di akhir.

1. perlu ada kejelasan tentang korelasi anak kos dengan anak nakal.
2. perlu ada penjelasan tentang hubungan pacaran lama dengan anak ga bener (intie podo ae aslie)

*** saya kos karena dari rumah saya dengan kampus perlu waktu 45-50menit. sementara tidak ada anggota rumah yang sanggup ngantarkan tiap hari PP dengan jam kuliah yang ga pasti. antar jemput? pilihan bagus, dengan harga yang sama saya harus bangun jam5 dengan jam pulang yang lebih ga tentu (nunggu kuota). jadi, i dont think so. dan soal anak nakal, coba dibaca itu majalah kick andy (entah edisi agustus ato september 2011) yang menyebutkan bahwa “anak nakal” yang dalam konteks kasus ini adalah cewe ga bener (ntah ngobat ga free sex ya nyantet la apapun itu) terjadi di rumah yang dihuni bersama orang tua. jadi anak perempuan lo pade itu ga perawan di rumah elo sendiri, gitu ghaoelnya. banyak kok dosen saya yang nge kos, banyak juga teman pengurus gereja yang ngekos, banyak juga teman yang ngekos dan ga ngerokok, minum miras atau ngesex kaya kucing. biasa aja lagi.
*** kalo saya ya, kalo bisa pacaran lama dan awet tentu akan saya pertahankan, kalo kaya yang dulu, yang lakinya yang selingkuh mana bisa dipertahankan toh? tapi akhirnya jadi saya yang keliatan kek anak kaga bener. la mana eyke tau awalnya dia buaya pria macam apa, makanya to saya pacaran? tapi toh keliatannya pihak situ terlalu sibuk untuk mau tau kebenaran yang sesungguhnya dan pilih mengarang cerita sendiri tanpa konfirmasi. LUAR BIASA. mari kita beri applause *plok plok plok*

3. seorang dosen komunikasi dengan pendalaman jurnalistik #nomention bisa menyebarkan berita yang tidak jelas asal usulnya dengan lantangnya menggunakan sumber dari nara sumber yang juga tidak jelas latar belakangnya tanpa check, dan ricek double check dan triple check.

***saya tau alasannya sekarang kenapa dia pandang sebelah mata sama saya dan beberapa orang dalam “friend circle” kami juga seperti itu. LUAR BIASA SEKALI. seseorang yang secara praktisi dan teoritikal memahami betul komunikasi menjadi seorang “fashion communication terrorist”. how i love this major and the peoples! so much unexpected things happened. saya tahu semua manusia punya kesalahan, dan mungkin dia sedang khilaf. jadi saya biarkan saja. cuma karena sampai sekarang dia tidak check, double check dan triple check ke saya yang notabene adalah pelaku dalam kasus ini jadi saya meyakinkan diri bahwa dia penyebar semangat fitnah, yang adalah lebih kejam daripada pembunuhan.
babe yang dibilang pacar anakkucink *tepokjidat*

4. saya sedang dipenuhi kebencian. *semoga Tuhan mau menerima saya, membopong saya dan nasib saya yang ga tau mau dibawa kemana* (mau dibawa kemana hubungan kithaaa~)
saya serahkan semuanya ke Tuhan (gini ni manusia kalo udah susah dan nyerah di kasih ke tuhan yang suru kerja keras). saya benci semua orang itu dan saya lebih benci lagi karena saya benci diri saya sendiri. menyalahkan diri sendiri karena salah dan tidak pantas menyalahkan orang lain. menyalahkan diri sendiri yang menyebabkan diri sendiri jadi seperti ini. sungguh saya sudah pasrah. apa yang saya inginkan tidak menginginkan saya. tidak bisa dipaksakan hanya bisa diikhlaskan. masalah lanjutannya adalah kemana “si ikhlas” ini (kemana kemana~)? saya ga nemu. saya ga bisa iklhas. anaknya kaya apa aja ga tau. saya ga kenal ikhlas.

Posted in Uncategorized

Permalink Leave a comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.